Monday, October 26, 2015

Movie Review : TRACK (2014) & Rachel Getting Married (2008)



Ketika baru pertama kali nonton sebuah film, tanpa clue yang cukup tentang apa film itu bercerita, biasanya saya hanya berharap film itu bukan film sci-fi, tidak melibatkan alien, vampir, atau bercerita tentang mamang-mamang yang naik haji terus gak pulang-pulang.

Seperti ketika saya nonton dua film ini di HBO; ekspektasi saya biasa-biasa saja. Remote siap di tangan untuk pindah channel kalo-kalo ditengah cerita filmnya jadi ngga menarik. And that wasn’t happening. I was staying in front of the TV until those movies ends. Oke, memang agak ketinggalan ya nonton Rachel Getting Married sekarang, 7 tahun setelah film itu release. But however, adegan-adegan di dua film ini, lingering in my mind for a few days after. Dan sederhananya, posting kali ini, saya pengen cerita kenapa dua film ini begitu berkesan buat saya.



1. TRACK

 

Dari judulnya, saya kira ini film inspirasional tentang pengamen yang sukses bikin album dan jadi artis internasional. Tapi bukan sodara-sodari. Film ini bercerita tentang perjalanan seorang Robyn Davidson, perempuan berusia 27 tahun, melintasi gurun di tengah-tengah Australia, mulai dari Alice Spring dan berakhir di pantai Samudera Hindia. Dalam perjalanan itu dia ditemani seekor anjing bernama Diggity dan unta-unta yang difungsikan untuk membawa basic needsnya. That’s all. Maksudnya, ya, dia sendirian, melintasi gurun.


Saya jadi suka banget sama film ini, karena saya merasa film ini berhasil menampilkan keindahan dari bersendiri di tengah gurun. Cinematografinya, kalau boleh saya bilang, puitis. Menonton film ini, saya serasa diajak jalan kaki bareng Robyn di bawah nyalangnya sinar matahari gurun, menggandeng tali leher unta, menikmati sepinya ngga ketemu manusia lain, tidur dibawah langit penuh bintang, diselimuti kepekatan sekeliling tanpa lampu listrik, dan kemegahan Samudera Hindia di akhir perjalanannya. Menghanyutkan.


Saya juga merasa ikut kehausan ketika Robyn melintasi tempat yang ngga ada air sama sekali, panasnya punggung yang terbakar, fatamorgana, paniknya tersesat kehilangan kompas atau ditinggal untanya, badai gurun, dan yang paling sedih, ketika Diggity mati karena ngga sengaja makan racun.

TRACK tidak secara eksplisit mengatakan apa sebenarnya tujuan Robyn melakukan perjalanannya. Tapi saya sebagai penonton, melihat keinginannya menempuh perjalanannya sebagai symbol kebebasan. Bebas dari kehidupan sosial dan modernitas. Dengan bersendiri melintasi gurun, Robyn bisa meninggalkan kebisingan dan keruwetan hidup bersama manusia-manusia lain dan meninggalkan atribut-atribut yang ia perlukan untuk diterima di masyarakat. Contoh di film ini, Robyn bebas menentukan bagaimana ia ingin berpakaian; pakai scarf yang dililit jadi kemben, pake celana dalem dan outer kimono aja, atau bahkan telanjang sama sekali (who cares? Nobody out here to see her naked). Dia ngga perlu lagi toilet yang higenis, ngga perlu mandi apalagi rangkaian skincare, dan dengan begitu ia menyadari kebutuhan esensialnya sebagai manusia ternyata ngga banyak-banyak amat. Cukup makanan kaleng (tanpa ribet kuliner ini-itu), minum, pakaian yang itu-itu aja tanpa peduli model yang penting cukup ketika cuaca panas atau ketika suhu drop menjadi dingin di malam hari, sahabat sejatinya diggity, kompas penunjuk arah, dan unta-untanya. Ketika diggity harus mati karena keracunan, barulah dengan ironisnya Robyn mengakui kalau ia begitu kesepian.

There is a beauty of being alone in a wildlife, like ancient people before us, but theres also a sadness, upon realization, that actually, human can not life completely alone.

Photo By Rick Molan, National Geography

And actually, this Robyn is turn out to be a real person. Yep, track is happened in 70’s. Kisah perjalanan Camel Lady ini dibukukan dengan judul yang sama, dan pada tahun kejadiannya, dimuat di majalah National Geographic (dokumentasi oleh Rick Molan, muncul juga sebagai tokoh di film ini). Setelah googling-googling dan baca beberapa artikelnya, saya menyadari kekurangan film ini. Di filmnya, Robyn tidak tampak terlalu terlibat dengan suku aborigin yang ia temui di sepanjang perjalanannya. Padahal kenyataannya, Robyn malah sampai belajar bahasa aborigin dari kaset yang ia setel di radio yang ia bawa, setiap malam, dan ia pun menjadi aktivis yang sangat concern dengan suku aborigin.

Photo By Rick Molan, National Geography

However, tulisan ini cuma cara pandang yang dangkal terhadap sebuah perjalanan epic seorang perempuan muda. Terus terang, saya penasaran baca bukunya, apa sih yang ada di kepala Robyn sebenarnya?

2. Rachel Getting Married

 

Pertamanya, saya ngga yakin ngerti ketika nonton film ini. Tapi entah kenapa, sepanjang nonton, saya berlinangan air mata T-T. Mungkin karena lagi PMS, mungkin lagi banyak masalah, mungkin saya lelah (lho). Cedih, hiks, karena saya mengambil sudut pandang dari posisi Kym.

Dari judulnya, langsung taulah kalo setting film ini seputar persiapan-perayaan pernikahan Rachel (si Kakak perempuan yang mau married, obviously). Film ini mencoba bercerita tentang bagaimana sebuah keluarga  menghadapi the blacksheep of the family (Kym, drug addict little sister yang dikasih hari bebas dari rehabilitasi khusus buat kawinan kakaknya) di moment yang (seharusnya) penuh kebahagiaan itu, dan bagaimana si Kym ini menerima dan melakoni posisi yang disediakan keluarganya untuk dia di moment itu.

Selanjutnya kita tahu pernah terjadi tragedi di keluarga ini. Kym pernah mengendarai mobil dalam keadaan high, kehilangan kontrol, lalu kecelakaan. Di mobil itu ada dia dan adiknya, Ethan (si bungsu dalam keluarga). Kym selamat, adiknya ngga. Beban inilah yang disandang Kym selama hidupnya. Dia ngga pernah bisa maafin dirinya sendiri karena telah jadi penyebab meninggalnya Ethan. Lalu kita tahu peristiwa selanjutnya dalam keluarganya adalah perceraian orang tua. Mungkin karena sebagai orang tua, mereka ngga mampu menanggung sejarah yang begitu muram; meninggalnya anak bungsu, dan anak tengah yang jadi pecandu.

Sebagai Rachel mungkin wajar jika dia ngga terlalu simpati sama Kym. Buat dia Kym adalah sumber kehancuran keluarganya (adik meninggal, bapak-ibu bercerai). Dalam sudut pandangnya, kehadiran Kym sekedar formalitas aja dan dia mau Kym jangan terlalu menarik perhatian, jangan banyak tingkah, jangan banyak omong, dan harus nurut sama apa yang udah diatur sama Rachel. This is her wedding, and she wants it to perfect, dia ngga mau adiknya itu bikin moment ini jadi berantakan.

Sisi lain, Kym ngga mau diperlakukan seperti itu. Dia juga ingin didengar. Yap, memang dia menanggung dosa terbesar sebagai penyebab meninggalnya Ethan, yap dia malu-maluin karena jadi pecandu, dan (mungkin) dia juga sebagai penyebab bercerainya kedua orangtuanya, tapi dia telah memutuskan untuk berubah menjadi lebih baik dan merasa berhak untuk ikut bergembira di acara kakaknya. Bukan sebagai formalitas yang sekedar ada dan diam. Dan yang paling penting, dia masih menginginkan posisinya di keluarga itu; as a lovely sister dan daughter, and she know theres still so much to do to earn it.


Dari gambaran itu, saya merasa Kym telah diperlakukan tidak adil. Memang dia bersalah karena menyia-nyiakan hidupnya dengan jadi drugs addict. Tapi, apakah betul-betul dia yang bertanggung jawab akan kematian adiknya? Menurut saya, tidak. Tentu saja ada kelalaian orang tuanya ketika Kym mengenal drugs dan juga ketika mereka mempercayakan bocah kecil berkendara bersama kakaknya yang seorang pecandu. Namun, Kym lah yang paling heroik, dan paling menyadari beban itu sebagai sesuatu yang harus ia tanggung sepanjang hidupnya. Bukan kakaknya, bukan bapaknya, atau ibunya.

Kym is an emotional and impulsive character. She’s been in and out of rehabilitation. She is slightly pathological liar, smoking, and I thought, if someone bearing a huge burden in her life, sometimes she deal it with an ugly way, because it’s the only way she know. And it show me how fragile human is.

No comments:

Post a Comment