Ini film tahun 2013 dan tayang perdana di tahun 2014. Agak
lupa juga tahun itu muncul di bioskop twentyone apa ngga. Kalau pun muncul,
saya melewatkannya, dan mungkin juga, karena genre filmnya yang ngga mainstream
jadi ngga bertengger lama di bioskop.
Anyway, thanks to HBO, kemarin saya berkesempatan juga
nonton film ini. Film yang mungkin terinspirasi dari SIRI, operating system
yang ada di I-Phone. Entah settingnya di tahun berapa, yang jelas pemrograman
komputer sudah sangat canggih, hingga terciptalah sebuah OS yang bisa merespon
emosi penggunanya dan bisa berkembang sesuai kebutuhan penggunanya. Ketika
penggunanya –Theodore, adalah seorang yang sedang patah hati dan sedang
berusaha move on, sang OS yang bernama Samantha, berkembang menjadi sesuatu yang
menghibur, romantis, dan sesosok yang siap dijadikan pelampiasan.
Melihat bagaimana teknologi telepon genggam mempengaruhi
hidup kita sekarang -membuat kita lebih terisolasi disibukkan dengan gadget kita dari pada relasi nyata dengan lingkungan di sekitar, rasanya tidak mustahil bahwa Samantha akan lahir, dan mungkin melihat orang yang asik ngobrol dengan gadgetnya bukan pemandangan yang aneh nantinya.
Film ini lah yang membuat kita berhenti sejenak dan menyadari, bahwa ada
hal-hal yang tak bisa digantikan teknologi.
Dengan sinematografi yang sederhana
dan apik (meski dimaksudkan bersetting modern world, kita tidak disuguhi latar
yang penuh dengan cyber atau mobil terbang), film ini dengan luwes membuat kita
merasakan Theodore. Merasakan patah hati karena harus berpisah dari istri yang
masih dicintai. Merasa jatuh cinta pada suara seksi Samantha (oleh Scarlett
Johansson) yang lugu, tapi juga cerdas (bayangkan seorang pacar yang punya
google di kepalanya), humoris, dan pandai main musik. Film ini berargumen bahwa love relation bisa saja platonik, hanya berdasarkan komitmen untuk saling berbagi dan saling mengisi dalam aspek intelegensi dan emosional. Namun pada akhirnya, tak bisa dipungkiri kepurbaan manusia,bahwa kita selalu butuh sex.
Theodore-lah yang pertama mengenalkan Samantha pada sensasi
sentuhan –yang mestinya sulit dicerna sebuah OS (bayangkan kamu mencoba
menjelaskan apa itu dingin pada seseorang yang tidak bisa merasa suhu).
Sementara Samantha selalu ingin merasakan rasanya punya tubuh- sesuatu yang ia
sadari penting setelah “bercinta” dengan Theodore, hingga ia mengusulkan
seorang sexual surrogate, walau pada akhirnya gagal.
Sebaliknya, Her seakan memberi contoh sempurna, bahwa manusia bisa memilih apa-apa yang bermakna bagi dirinya sendiri. Tak peduli Samantha hanyalah suara, tetapi jika ia bisa memenuhi kebutuhan emosional Theodore, menemaninya saat merasa sepi, membuatnya merasa siginifikan, maka Samantha bermakna banyak baginya. Pada skala lain, sama dengan seorang anak yang memiliki boneka yang bisa berbunyi "I Love You" dan membuat anak itu merasa sungguhan dicintai, maka itu bermakna baginya. Akan selalu menjadi bagian dari dirinya dan tidak ada apapun yang bisa mengubahnya.
Butuh jatuh cinta pada seorang Samantha, bagi Theodore,
untuk akhirnya menyadari bahwa bertumbuh dan berubah adalah sesuatu yang
niscaya bagi manusia, dan bahkan bagi sebuah OS yang pada film ini digambarkan berkembang lebih lesat dan lebih pesat intelegensinya dibandingkan manusia. Ia menyadari bahwa hubungannya
dengan mantan istrinya bertumbuh dan berubah. Dari waktu ke waktu dalam
kebersamaan, mereka menjadi orang yang berbeda. Film ini tak memberi tips
bagaimana mempertahankan pernikahan sementara suami atau istri sudah berubah
dari orang yang mereka kenal ketika jatuh cinta dulu. Film ini menekankan bahwa
dalam sebuah hubungan, pastilah ada sesuatu dari pasangan kita yang kita ambil
dan tumbuh menjadi bagian dari diri kita dan sebaliknya. Kita tidak bisa
menjadi keras kepala dengan menolak perubahan. Maka Samantha menjadi kesadaran
bagi Theodore, bahwa ia juga bisa move on, dan membuka hatinya, bersedia tumbuh
dan berkembang bersama cinta yang lain. "Now we know how." adalah ungkapan Samantha bahwa mereka telah belajar jatuh cinta, dan Theodore akan dapat merasakan dan mengulangi pengalaman yang sama.
No comments:
Post a Comment